Tes Kompetensi Akademik (TKA): Evaluasi atau Kekeliruan Sistemik?
Tes Kompetensi Akademik (TKA) lahir dengan semangat mulia,
meningkatkan mutu pendidikan dan memetakan kemampuan akademik siswa secara objektif. Namun realitas di lapangan berbicara sebaliknya. Di banyak sekolah, hasil TKA justru menunjukkan penurunan nilai yang drastis, bahkan pada siswa dengan rekam jejak akademik yang sebelumnya baik.
Pertanyaannya sederhana : apakah ini bukti kegagalan siswa – atau kegagalan sistem?
Ketika Angka Bicara, Sistem Harus Mendengar
Dalam berbagai laporan pendidikan nasional beberapa tahun terakhir, kesenjangan antara nilai rapor sekolah dan hasil asesmen standar semakin terlihat. Data Kemendikbudristek menunjukkan bahwa banyak siswa dengan nilai rapor tinggi justru memperoleh skor rendah dalam asesmen berbasis standar nasional.
Fenomena ini menandakan satu hal penting yang bermasalah bukan semata kemampuan siswa, tetapi ketidaksinkronan sistem evaluasi.
TKA hadir sebagai alat ukur baru, namun kurikulum belum sepenuhnya siap, guru belum menerima pelatihan yang memadai, dan pihak sekolah menguji siswa sebelum benar-benar mempersiapkan mereka.
Dalam logika pendidikan yang sehat, ini adalah kesalahan desain, bukan kesalahan peserta didik.
Soal Terlalu Tinggi, Transisi Terlalu Cepat
Banyak pendidik mengakui bahwa tingkat kesulitan soal TKA melompat terlalu jauh dibandingkan pembelajaran di kelas. Alih-alih mengukur kompetensi dasar, soal justru menuntut:
- Literasi tingkat tinggi tanpa pembiasaan
- Penalaran kompleks tanpa latihan bertahap
- Integrasi konsep lintas materi yang belum matang
Mantan Mendikbud Anies Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. pernah menegaskan bahwa:
Asesmen yang baik bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memperbaiki proses belajar.
Jika hasil asesmen justru membuat mayoritas siswa gagal tanpa tindak lanjut yang jelas, maka asesmen tersebut kehilangan makna pendidikannya.
Dampak Psikologis yang Terabaikan
Nilai TKA yang jeblok bukan hanya persoalan statistik. Di lapangan, dampaknya jauh lebih serius:
- Siswa kehilangan rasa percaya diri
- Motivasi belajar menurun
- Muncul kecemasan akademik yang tidak perlu
Psikolog pendidikan Dr. Retno Listyarti menekankan bahwa tekanan akademik berlebihan tanpa pendampingan dapat berdampak jangka panjang pada mental siswa, terutama di usia remaja.
Sayangnya, para pelaksana TKA hampir tidak membahas aspek kesehatan mental siswa. Mereka hanya membicarakan ranking, rerata nilai, dan perbandingan antar sekolah.
Guru dan Sekolah Jadi Korban Diam-Diam
Ironisnya, TKA juga menjebak guru dan sekolah. Di satu sisi, guru memaksa siswa meningkatkan hasil asesmen.. Di sisi lain:
- Waktu belajar terbatas
- Kurikulum terus berubah
- Target akademik tidak realistis
Akibatnya, pembelajaran bergeser dari proses bermakna menjadi:
Alih-alih penguatan konsep, latihan soal, drilling, dan mengejar format ujian. Jika ini yang terjadi, maka pendidikan kehilangan ruhnya. Sekolah tidak lagi menjadi ruang tumbuh, melainkan ruang bertahan.
Apakah TKA Masih Layak Diteruskan?
Jawabannya: ya, tapi tidak dengan cara yang sama.
TKA tidak seharusnya:
- Dijadikan alat seleksi semata
- Menjadi dasar labeling “siswa pintar” dan “siswa gagal”
- Digunakan tanpa kesiapan ekosistem pendidikan
Kita hanya boleh meneruskan TKA jika :
- Kurikulum dan asesmen benar-benar selaras
- Guru mendapat pelatihan khusus dan berkelanjutan
- Siswa dibiasakan dengan pola soal sejak dini
- Hasil TKA digunakan sebagai alat diagnosis, bukan alat hukuman
Tanpa itu semua, TKA hanya akan memperlebar jurang ketimpangan pendidikan.
Pendidikan Bukan Arena Eksperimen
Siswa bukan kelinci percobaan kebijakan. Setiap perubahan sistem evaluasi harus berpijak pada satu prinsip utama :
melindungi proses belajar dan masa depan anak.
Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa..
“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak.”
Bukan menjatuhkannya dengan sistem yang belum matang.
Peran Lembaga Pendidikan di Luar Sekolah
Di tengah ketidakpastian sistem, lembaga pendidikan nonformal seperti Highstar Language Centre hadir untuk menjembatani kesenjangan :
- Membiasakan siswa berpikir kritis
- Melatih literasi dan penalaran akademik
- Mempersiapkan siswa menghadapi asesmen modern tanpa tekanan berlebihan
Namun demikian, kita perlu menegaskan bahwa bimbingan tambahan bukanlah solusi utama. Oleh karena itu, solusi yang paling mendasar tetap terletak pada perbaikan sistem pendidikan nasional. Lebih jauh lagi, dengan mempertimbangkan hal tersebut, kita seharusnya mengevaluasi kebijakan yang melandasinya, bukan anak.
Pada prinsipnya, jika satu sistem tes membuat mayoritas siswa gagal, pemerintah harus menguji ulang kebijakannya, bukan siswanya.
Pada akhirnya, TKA dapat menjadi alat kemajuan, atau justru alat kegagalan massal. Oleh sebab itu, pilihannya terletak pada keberanian kita untuk mengevaluasi, bukan sekadar memaksakan.



